Minggu, 18 Agustus 2019

Wakaf Adalah Ibadah yang Berkelanjutan

Wakaf Adalah Ibadah yang Berkelanjutan

Sebelum memulai berwakaf, ada baiknya untuk mengetahui apa artinya wakaf. Secara etimologis, wakaf adalah menahan atau menghentikan dari asal kata waqafa-yaqifu-waqfan. Sedangkan secara terminologis, definisi wakaf beragam namun dengan satu pemahaman yang sama.

Menurut Imam Nawawi, pengertian wakaf berarti menahan harta yang diambil manfaatnya bukan untuk diri sendiri sedangkan harta tersebut tetap dan digunakan manfaatnya untuk kebaikan.

Wakaf menurut Imam Syarkhasi yaitu menahan harta dari jangkauan kepemilikan orang lain. Sedangkan menurut al-Mughni, wakaf yaitu menahan harta di bawah pemiliknya, disertai pemberian manfaat yang berupa sedekah.

Pengertian menurut Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 mengenai wakaf, berarti perbuatan hukum wakif untuk dimanfaatkan selamanya atau hanya untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingan untuk ibadah atau kesejahteraan umum yang sesuai menurut syariah.

Macam-macam Wakaf


Wakaf Adalah Ibadah yang Berkelanjutan

Meski dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1977 mengenai wakaf keluarga belum diatur sebab untuk menghindari kekaburan permasalahan perwakafan. Namun, macam-macam wakaf dalam fiqih diatur secara jelas, yaitu sebagai berikut:

1. Wakaf umum

Salah satu macam wakaf adalah wakaf umum, yaitu tujuannya untuk kepentingan umum yang tidak dikhususkan pada orang-orang tertentu. Selama harta wakaf ini masih ada dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas, maka pahalanya akan terus mengalir meskipun wakif sudah meninggal dunia. Biasanya wakaf umum ini dimanfaatkan untuk menyelenggarakan kesejahteraan umat, baik itu bidang sosial, kebudayaa, pendidikan, ekonomi, maupun keagamaan.

Manfaat dari wakaf umum ini lebih besar manfaatnya karena sesuai dengan tujuan dari wakaf umum. Dari substansinya, wakaf umum merupakan cara membelanjakan harta di jalan Allah SWT. Karena manfaatnya luas, dirasakan oleh semua orang, tidak terbatas pada kelompok tertentu saja.

2. Wakaf ahli

Wakaf ahli atau yang juga disebut wakaf keluarga yang memang ditujukan untuk orang-orang tertentu, bisa seseorang atau kelompok. Biasanya ditujukan untuk keluarga atau kelompok tertentu. Wakaf jenis ini dianggap sah, dan manfaatnya hanya berhak bagi mereka yang ditunjuk oleh wakif.

Syarat-syarat wakaf


Wakaf Adalah Ibadah yang Berkelanjutan

Selain mengetahui macam-macam wakaf, penting juga mengetahui apa saja syarat-syarat wakaf menurut UU Nomor 41 Tahun 2004 mengenai wakaf. Syarat yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:

1. Adanya wakif

Syarat wajib wakaf yaitu adanya wakif (pemberi wakaf). Namun, tidak semua orang bisa menjadi wakif karena harus memenuhi persyaratan, yaitu dewasa, berakal sehat, pemilik sah harta yang akan diwakafkan, serta tidak terhalang melakukan perbuatan hukum. Wakif boleh berupa perorangan, badan hukum, dan organisasi.

2. Adanya Nazhir

Nazhir merupakan syarat penting yang harus ada dalam syarat wakaf. Nazhir merupakan orang yang bertugas memelihara dan mengelola harta benda wakaf yang bisa perseorangan, badan hukum, dan organisasi. Menjadi nazhir haruslah memenuhi persyaratan, yaitu Warga negara Indonesia, dewasa, beragama Islam, Amanah, mampu secara jasmani dan rohani, serta tidak terhalang melakukan perbuatan hukum.

3. Ikrar Wakaf

Syarat selanjutnya adalah harus adanya ikrar wakaf, yaitu pernyataan dari wakif untuk mewakafkan harta benda miliknya. Ikrar ini setidaknya disaksikan oleh dua orang saksi dihadapan Pejabat pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW). Ikrar tersebut bisa dinyatakan secara lisan dan juga tulisan yang tertuang dalam akta ikrar wakaf.

4. Harta benda wakaf

Tentu saja syarat penting berwakaf yaitu harta benda yang akan diwakafkan. Harta yang diwakafkan bisa berupa benda bergerak maupun tidak yang punya daya tahan lama atau tidak hanya sekali pakai serta memiliki nilai menurut agama Islam. Harta benda ini harus milik sah dari wakif baru bisa diwakafkan.

5. Adanya peruntukan harta benda wakaf

Dalam mekanisme berwakaf, harus ada peruntukan manfaat harta wakaf untuk siapa, bisa untuk sarana ibadah, bantuan bagi anak terlantar, yatim piatu, dan fakir miskin, bisa untuk kegiatan dan prasarana pendidikan dan kesehatan, kemajuan ekonomi masyarakat, serta untuk kesejahteraan umum lainnya.

6. Adanya jangka waktu wakaf

Syarat lain dari wakaf adalah harus memiliki jangka waktu. Menurut para ulama, harta yang diwakafkan bisa selamanya, atau bisa juga berjangka.

0 komentar:

Posting Komentar